bhs Jawa Halus peraturan pemakaian dan umpama Kalimatnya – Dalam bhs Jawa, dikenal wujud tingkat tutur bhs yang khas dan menyadari berdasarkan tingkat kesopanan. sebab saling menghormati dan membuka sopan santun pada satu bersama dengan lainnya adalah kebiasaan yang melekat dalam kebudayaan Jawa.
bhs Jawa Halus peraturan pemakaian dan umpama Kalimatnya
Masyarakat Jawa udah diajarkan tata krama dan tingkatan sopan santun sejak masih dini. sehingga mereka 2026 slot link login bisa tempatkan dirinya bersama baik bagaimana berlaku dan bertutur kata kepada siapa pun yang berkata dengannya.
Masyarakat Jawa mengenal tata bahasa krama inggil, yaitu bhs Jawa halus yang digunakan sebagai bentuk sopan santun dan untuk menjunjung lawan bicara.
Lantas, bagaimana ketetapan pemanfaatan bahasa Jawa halus atau krama inggil? selanjutnya informasinya beserta perumpamaan kalimat bahasa Jawa halus yang sering digunakan sehari-hari.
Aturan pemanfaatan bahasa Jawa Halus
Bahasa Jawa halus atau krama inggil merupakan ragam bahasa Jawa yang berwujud penghormatan. ada tiga kondisi kapan bahasa Jawa halus ini digunakan. Dikutip berasal dari Wiwara oleh Harimurti Kridalaksana, tersebut penjelasannya.
1. pemanfaatan bahasa Jawa Halus di keadaan Formal
Penggunaan bhs krama beberapa dipakai pada kondisi penuturan yang formal/resmi. bila didalam acara rapat situs slot 2026, upacara kebiasaan pengajian, maupun pidato antara upacara perkawinan.
2. bhs Jawa Halus Diucapkan kepada Orang yang Lebih Tua
Berbicara dengan orang yang lebih tua kudu pakai ragam tutur bahasa Jawa halus. Ini merupakan wujud penghormatan kepada yang lebih tua dan pengalaman hidupnya lebih banyak. jikalau seorang anak kepada orang tuanya, siswa kepada gurunya.
3. bahasa Jawa Halus Diucapkan kepada Orang yang standing Sosialnya Lebih Tinggi
Saat bicara bersama dengan mereka yang memiliki status sosial lebih tinggi, seseorang kudu pakai bhs Jawa halus. hal ini sebagai wujud penghormatan dan kesopanan. karena orang yang standing sosialnya lebih tinggi diduga lebih terhormat di kalangan penduduk suku Jawa.
Misalnya, seorang guru kepada kepala sekolah, seorang abdi kepada keluarga keraton, seorang pekerja kepada atasan, dan lain sebagainya.
Contoh kalimat bhs Jawa Halus
Supaya lebih jelas selanjutnya sebagian umpama kalimat bahasa Jawa halus yang dikutip dari buku Kamus Praktis Berbahasa Jawa Keseharian tulisan Siti Rofiqoh, dkk. yang biasa digunakan dalam kehidupan penduduk suku Jawa sehari-hari.
Selamat pagi = Sugeng enjang
Selamat siang = Sugeng siang
Selamat sore = Sugeng sonten
Selamat malam = Sugeng ndalu
Bapak sudah makan belum? = papa sampun dhahar dereng?
Terima kasih banyak bapak dan ibu = Matur nuwun sanget kagem ayah kalih ibu.
Bapak mau kemana? = papa badhe tindak pundi?
Ibu namun apa sekarang = Ibu tasih punapa sakniki?
Air di sungai sangat keruh = Toyo ten lepek butek sanget
Saya ambil barang aku = Kula pundhut barang kula
Apa warna bajumu? = Nopo werni rasukan sampean?
Kalimat ini artinya apa ya? = kata-kata niki artosipun nopo nggih?
Bagaimana kabar Ibumu? = Kados pundi kabar ibune sampean?
Baru saja ibu berikan uang = Nembe mawon ibu maringi yotro
Ibu berangkat ke Surabaya = Ibu tindhak ten Surabaya
Tingkatan bahasa didalam bhs Jawa
Sumadi dan Edi Setiyanto di dalam buku permasalahan penggunaan bhs Jawa Krama menyebutkan selain krama inggil atau krama halus, terdapat tiga tingkatan tutur kata lain dalam bahasa Jawa, yakni ngoko lugu, ngoko halus, dan krama lugu.
Berurutan berasal dari ngoko lugu yang digunakan untuk tingkat kesopanan paling rendah, hingga krama alus 2026 fitur slot yang digunakan untuk tingkat kesopanan paling tinggi.
1. Ngoko Lugu
Tingkat tutur ngoko antara dasarnya mencerminkan rasa tidak berjarak atau akrab antara pembicara (orang pertama) terhadap lawan bicara (orang kedua) atau orang ketiga yang dibicarakan, dan pembicara tidak resmikan rasa segan terhadap lawan bicara
Itu sebabnya bhs ini semata-mata diterapkan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih muda atau kedudukannya sejajar dengan pembicara.
Jika seseorang bersama dengan kedudukan lebih rendah gunakan bahasa ngoko lugu kepada yang derajatnya lebih tinggi, maka ia bakal dikira tidak cukup sopan.
Mengutip buku Baboning Pepak Basa Jawa postingan Budi Anwari, pemanfaatan bhs Jawa ngoko lugu, antara lain:
Diucapkan oleh orang yang derajatnya lebih tinggi kepada orang dengan derajat lebih rendah.
Digunakan orang yang usianya lebih tua kepada yang usianya lebih muda.
Sesama rekan yang terlampau akrab.
Contoh kalimat:
Aku arep lunga menyang pasar. (Aku ingin pergi ke pasar)
Kowe iku yen diwenehi apa-apa kok mesthi ora gelem, piye ta? (Kamu itu kalau dikasih apa-apa kok nggak harap gimana sih?)
2. Ngoko Alus
Sejatinya, ngoko alus merupakan campuran ngoko lugu dan krama inggil. Ngoko alus bisa diucapkan kepada lawan berbicara yang sudah akrab tetapi masih dihormati, seperti:
Teman dekat yang saling menghormati.
Orang tua yang derajatnya lebih tinggi kepada orang yang lebih muda, namun hubungannya sangat akrab.
Sesama rekan kerja.
Ngoko alus terhitung diucapkan oleh istri kepada suaminya.
Contoh kalimat:
Aku nyuwun pirsa, daleme Mas Budi kuwi, neng ndi? (Maaf saya mau bertanya tempat tinggal Mas Budi di mana, ya?)
Panjenengan ora dhahar dhisik ta Pak? (Kamu belum makan dulu ya Pak?)
Kula dolan wonten griyane simbah. (Aku pergi ke rumahnya nenek)
3. Krama Lugu
Tingkat tutur krama ialah tingkatan yang lebih tinggi berasal dari ngoko. Basa krama mencerminkan rasa penuh sopan santun. Tingkat tutur ini berarti adanya perasaan segan seseorang pada lawan bicara.
Bahasa krama termasuk dibagi mulai dua macam, yaitu krama lugu dan krama halus. layaknya yang udah dijelaskan, krama halus atau krama inggil merupakan bhs Jawa yang tingkat kesopanannya paling tinggi. sedangkan krama lugu berada satu tingkat di bawahnya.
Tidak jauh tidak sama dengan krama inggil, krama lugu terhitung digunakan oleh orang yang lebih muda terhadap yang lebih tua. berikut semisal kalimatnya yang dikutip dari buku bahasa Jawa XB tulisan Eko Gunawan:
Ibu tumbas jeruk kaliyan apel.
Panjenengan napa empun nate tindak teng Rembang?
Kula kesupen mboten nggarap PR.
Baca terhitung Perbedaan Aksara Swara, Aksara Murda, dan Aksara kawan didalam bhs Jawa
Contoh Kosakata Jawa
Dirangkum dari berbagai sumber, tersebut adalah semisal kosakata Jawa didalam bhs Indonesia, bhs Jawa ngoko, dan bahasa krama inggil yang bisa dipahami.
Saya (bahasa Indonesia) = kulo (bahasa Jawa ngoko) = dalem (bahasa krama inggil)
Kamu (bahasa Indonesia) = kowe (bahasa Jawa ngoko) = panjenengan (bahasa krama inggil)
Dia (bahasa Indonesia) = deweke (bahasa Jawa ngoko) = piyambakipun (bahasa krama inggil)
Kami (bahasa Indonesia) = awakedhewe (bahasa Jawa ngoko) = kito (bahasa krama inggil)
Laki-laki (bahasa Indonesia) = lanang (bahasa Jawa ngoko) = kakong (bahasa krama inggil)
Perempuan (bahasa Indonesia) = wedhok/wadhon (bahasa Jawa ngoko) = estri (bahasa krama inggil)
Apa (bahasa Indonesia) = opo (bahasa Jawa ngoko) = menopo (bahasa krama inggil)
Kapan (bahasa Indonesia) = kapan (bahasa Jawa ngoko) = kapan (bahasa krama inggil)
Siapa (bahasa Indonesia) = sopo (bahasa Jawa ngoko) = sinten (bahasa krama inggil)
Mengapa (bahasa Indonesia) = ngopo (bahasa Jawa ngoko) = kadhosmenopo (bahasa krama inggil)
Bagaimana (bahasa Indonesia) = piye (bahasa Jawa ngoko) = kadhospundi (bahasa krama inggil)
Yang mana (bahasa Indonesia) = singendhi (bahasa Jawa ngoko) = ingkangpundhi (bahasa krama inggil)
Berapa (bahasa Indonesia) = piro (bahasa Jawa ngoko) = pinten (bahasa krama inggil)
Ayah (bahasa Indonesia) = rama (bahasa Jawa ngoko) = romo (bahasa krama inggil)
Ibu (bahasa Indonesia) = ibu (bahasa Jawa ngoko) = ibu (bahasa krama inggil)
Anak (bahasa Indonesia) = lare/putra (bahasa Jawa ngoko) = putro (bahasa krama inggil)
Pagi (bahasa Indonesia) = esuk (bahasa Jawa ngoko) = enjing-injing (bahasa krama inggil)
Siang (bahasa Indonesia) = awan (bahasa Jawa ngoko) = siang (bahasa krama inggil)
Malam (bahasa Indonesia) = bengi (bahasa Jawa ngoko) = dalu/ndalu (bahasa krama inggil)
Terima kasih (bahasa Indonesia) = muwun (bahasa Jawa ngoko) = maturnuwun (bahasa krama inggil)
Leave a Reply